RINDU MEMANG SIALAN
Belum juga terhapus oleh waktu
apa yang begitu cepat mengakhiri perjuangan panjang ku.
Seketika ini kembali membawa pada kenangan manis itu,ingin
saja kembali mengingat nya
,tapi.. yasudahlah. Kamu saja begitu mudah melupakan segala
nya, dan menurut logika seharus nya
Aku juga demikian.
Entah sudah keberapa Tahun sejak kau mengakhiri kita begitu saja, Aku tidak ingat,-dan memang
Sengaja ingin melupa.
Meski semua tentang mu masih sulit ku campakkan jauh dari dada.
Aku yakin bahagia disana sudah
Kau rengkuh bersama dia yg lain. Lalu bagaimana dengan aku?
Tidak kah kau pernah selintas berfikir mengenai Aku?
Tidakkah Kau pernah menduga-duga siapa
Pengisi relung hati ini atau bahkan pendamping ku sekarang?
Tak satupun yang mampu menggantikan mu sejak kau memilih
pergi,
Ya,, Aku masih sendiri.
Begitu keringkah ladang pertautan
ini hingga tunas harapan enggan tumbuh lagi?
Barangkali memang benar ada nya seperti itu.
Entah dimana, entah kapan masanya, cinta itu memanggilku
lagi? jika terjadi,
semoga saja tidak seperti mu lagi. Aku hanya takut patah
pada dahan yg sama.
Seperti hal nya fisik, hati juga merasakan letih.
Mengakhiri tapi tidak benar-benar
mengakhirinya. Mungkinkah?
maksud hati melengang pergi,meninggalkan jauh kisah dulu.
apa daya kaki
merintih perih.
Yang seharus nya kamu ketahui; Bertahan melawan logika aku
masih mampu.
Meski Setengah gila mengingkari perasaanku, tersudutku tanpa
ampun. Maaf aku tak mampu.
Mampukah aku beranjak pergi dengan semua tentangmu
pelan-pelan membatu dan memberatkan langkahku?
Padahal aku tak bisa
berlama-lama disini, padahal kau juga sudah lama tak ada di sini.
Ya Rindu memang sialan,
merajalela di batas angkuh yang mengunci bibir untuk bertanya tentangmu,
apakah kau mengecap rasa yang sama? Andai saja itu memang
sungguh adanya.
Ahh sudahlah, lupakan semua nya, biarkan saja waktu
menggerogoti kisah indah nya.
Karena kata hanya perantara, tak bisa seutuhnya. Biarkan
rasa yang bicara dari kedalamannya, detik ini. Masih. Rindu ini, untukmu.
Aku minta maaf, bukan pada mu, tapi pada hati yang sudah
letih ini.
Sampai kapan mati?
Aldy Ahmad Lubis
Komentar
Posting Komentar